Ada 4 tanda vital yang senantiasa dipantau. Tanda tanda
vital ini setidaknya bisa menggambarkan kondisi organ dalam tubuh manusia dalam
menjaga fungsinya dalam keseimbangan tubuh. Tanda tanda vital tersebut yaitu :
1. Suhu Tubuh
Suhu
tubuh, adalah gambaran luas mengenai kesehatan. Dalam kondisi sakit, suhu tubuh
biasanya naik, hal ini normal dilakukan tubuh untuk menghalau bibit penyakit
(Sistem pertahanan tubuh). Namun pada beberapa kondisi seperti gangguan Organ
dalam, Suhu tubuh dapat turun .
Cara mengukur suhu tubuh :
- Termometer oral –> Digunakan
dibawah lidah, bentuk logamnya lebih panjang
-Termometer Aksila –> Digunakan
didalam ketiak, bentuk logamnya lebih pendek
Setelah dipasang lihat suhu yang
tertera : 35,9-37,4(Normal)…. dibawah 35 (Hipotermi)…34 (Resiko tinggi)…diatas
normal (Hipertermi)… 41-44(hyperpireksia, resiko tinggi)
Penanganan :
Hipotermi –> Berikan suasana hangat,
Berikan botol hangat, rujuk rumah sakit
Hipertermi –> Kompres dingin,
Pemberian minum, rujuk rumah sakit
Suhu mendekati 34 & Suhu diatas 40
–> Sesegera mungkin rujuk ke Rumah sakit…
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh manusia
dapat di uraikan sebagai berikut :
1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu
berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi
berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait
dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan
kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf
simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk
dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas.
Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang
menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan
metabolisme.
3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat
menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya,
produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas
hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat
memengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan
metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan
produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada
laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi
meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan
peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan
kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada
zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian,
orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh
(hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak
mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik,
dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan
jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju
metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang
menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh
hingga 38,3 – 40,0 °C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan
pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami
gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat
merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar
keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh
terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan
lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan
yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat memengaruhi suhu
tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian
besar melalui kulit.
Proses kehilangan panas melalui kulit
dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai
langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang
mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup
tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi
panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit
merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.
2. Nadi
Nadi digunakan untuk melihat keadaan pemompaan jantung.
Frekuensi, kedalaman (lemah, kuat), dan irama adalah tiga hal yang harus diperhatikan
umumnya bayi yang baru dilahirkan
(neonatus) dapat memiliki dentur 130-150 denyut per menit, remaja-dewasa
normalnya 60-100 kali permenit, dengan irama teratur, dan kedalaman yang sedang
Cara : Gunakan 2-3 jari tangan dominan,
untuk menyentuh area pergelangan tangan yang sejajar dengan ibu jari.
pengecekan ini dilaksanankan dalam kondisi santai.
3. Pernapasan
Hal
ini diperlukan untuk mengetahui kesulitan dalam bernapas. Untuk dewasa
16-20 permenit adalah keadaan normal, diatas atau dibawah itu, bisa ditanyakan
keluhan yang dirasakan dalam bernapas.
Cara : Baringkan orang yang akan
diperiksa, letakan tangannya diatas dada. Lalu hitung, (1x tarik napas & 1x
hembusan = 1x hitungan). Apabila sesak bisa dicoba dibaringkan dengan posisi
duduk.
4. Tekanan Darah
Agak
sulit mungkin, butuh sebuah keteranpilan khusus dan terlatih. Anda bisa meminta
tolong pada mereka ahli medis yang terlatih seperti perawat.
untuk usia dewasa
80-120 –> Normal, diperiksa min 2
tahun sekali
130-139 –> periksa min 1 tahun
sekali, diskusikan perubahan gaya hidup
140-159–> periksa min 2bulan sekali
(hipertensi ringan)
160-179 –> periksa min 1 bulan
sekali (Hipertensi sedang)
180-209–> periksa min 1 minggu
sekali (Hipertensi berat)
210- lebih –> sesegera mungkin
dirujuk kerumah sakit.
Tanda tanda vital yang sederhana ini
mungkin bisa diaplikasikan untuksekedar mengetahui kondisi kesehatan terkini
dan secara luas. Untuk keterangan lebih lanjut, dapat menghubungi Dokter. demi
terjaganya kondisi kesehatan yang prima.
Tekanan darah dinilai dalam dua hal,
sebuah tekanan tinggi sistolik yang
menandakan kontraksi maksimal jantung dan tekanan rendahdiastolik atau tekanan
istirahat.
Pemeriksaan tekanan darah biasanya
dilakukan pada lengan kanan, kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Perbedaan antara tekanan sistolik dan
diastolik disebut tekanan
denyut.
Di Indonesia, tekanan darah biasanya diukur dengan tensimeter air raksa.
Tidak ada nilai tekanan darah 'normal'
yang tepat, namun dihitung berdasarkan rentang nilai berdasarkan kondisi
pasien. Tekanan darah amat dipengaruhi oleh kondisi saat itu, misalnya seorang
pelari yang baru saja melakukan lari maraton, memiliki tekanan yang tinggi, namun ia dalam nilai
sehat. Dalam kondisi pasien tidak bekerja berat, tekanan darah normal berkisar
120/80 mmHg. Tekanan darah tinggi atau hipertensi diukur pada nilai sistolik 140-160 mmHg. Tekanan
darah rendah disebut hipotensi.
5. Tinggi
Tinggi merupakan salah satu ukuran
pertumbuhan seseorang. Tinggi dapat diukur dengan stasiometer atau tongkat
pengukur. Pasien akan diminta untuk berdiri tegak tanpa alas kaki. Anak-anak
berusia dibawah 2 tahun diukur tingginya dengan cara dibaringkan.
PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah
sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan
tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam
penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien.
Biasanya,
pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan
berakhir pada anggota gerak yaitu kaki. Pemeriksaan secara sistematis tersebut
disebut teknik Head to Toe. Setelah pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi, beberapa tes khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi. Dalam Pemeriksaan fisik daerah abdomen pemeriksaan dilakukan
dengan sistematis inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi.
Dengan
petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat
menyususn sebuah diagnosis
diferensial,yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin
menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan
penyebab tersebut.
1. Inspeksi
- Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh
yang diperiksa melalui pengamatan. Cahaya yang adekuat diperlukan agar
perawat dapat membedakan warna, bentuk dan kebersihan tubuh klien. Fokus
inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk,
posisi, simetris. Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian
tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata kuning (ikterus),
terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dan lain-lain.
2. Palpasi
- Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan
dan jari-jari adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan
data, misalnya tentang : temperatur, turgor, bentuk, kelembaban, vibrasi,
ukuran.
Langkah-langkah
yang perlu diperhatikan selama palpasi :
- Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai.
- Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
- Kuku jari perawat harus dipotong pendek.
- Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir.
Misalnya : adanya
tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan lain-lain.
3. Perkusi
- Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan
tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri
kanan) dengan tujuan menghasilkan suara.
- Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan
konsistensi jaringan. Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai alat
untuk menghasilkan suara.
Adapun suara-suara
yang dijumpai pada perkusi adalah :
- Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
- Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah
paru-paru pada pneumonia.
- Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi
daerah jantung, perkusi daerah hepar.
- Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga
kosong, misalnya daerah caverna paru, pada klien asthma kronik.
4. Auskultasi
- Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan
suara yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut
dengan stetoskop. Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara
nafas, dan bising usus.
Suara tidak normal
yang dapat diauskultasi pada nafas adalah :
- Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat
saluran-saluran halus pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus,
sedang, kasar). Misalnya pada klien pneumonia, TBC.
- Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi
maupun saat ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien
batuk. Misalnya pada edema paru.
- Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada fase
inspirasi maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.
- Pleura Friction Rub ; bunyi yang terdengar “kering” seperti suara
gosokan amplas pada kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.
Pendekatan
pengkajian fisik dapat menggunakan :
1. Head to toe
(kepala ke kaki)
- Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan
sampai ke kaki. Mulai dari : keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala,
wajah, mata, telinga, hidung, mulut dan tenggorokan, leher, dada, paru,
jantung, abdomen, ginjal, punggung, genetalia, rectum, ektremitas.
2. ROS (Review of
System / sistem tubuh)
- Pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh sistem tubuh, yaitu :
keadaan umum, tanda vital, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler,
sistem persyarafan, sistem perkemihan, sistem pencernaan, sistem
muskuloskeletal dan integumen, sistem reproduksi. Informasi yang didapat
membantu perawat untuk menentukan sistem tubuh mana yang perlu mendapat
perhatian khusus.
3. Pola fungsi
kesehatan Gordon, 1982
- Perawat mengumpulkan data secara sistematis dengan mengevaluasi
pola fungsi kesehatan dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus
meliputi : persepsi kesehatan-penatalaksanaan kesehatan, nutrisi-pola
metabolisme, pola eliminasi, pola tidur-istirahat, kognitif-pola
perseptual, peran-pola berhubungan, aktifitas-pola latihan,
seksualitas-pola reproduksi, koping-pola toleransi stress, nilai-pola
keyakinan.
4. DOENGOES (1993)
- Mencakup : aktivitas / istirahat, sirkulasi, integritas ego,
eliminasi, makanan dan cairan, hygiene, neurosensori, nyeri /
ketidaknyamanan, pernafasan, keamanan, seksualitas, interaksi sosial,
penyuluhan / pembelajaran.